Wednesday, October 26, 2016
Tuesday, October 25, 2016
Aku bernapas diantara kata kata yang terlarut di dalam udara
Mereka beranggapan bahwa lirik lirik yang kami utarakan adalah lirik yang keji
Padahal kami hanya bersuara menurut undang-undang yang disediakan oleh negara
Mungkin kita dihinakan oleh dunia yang entah berapa kali mencaci maki
Yaaa.
Hanya ini yang kami berikan untuk jeritan-jeritan yang kami dengar di malam hari yang gelap
Tak banyak penerangan yang bisa dilihat di malam yang kelam
Mungkin karena ini malam, sebab itulah suara mereka tak di dengar
Di banding dengan orang-orang yang akan semakin kaya karena pembangunan di tujukan untuk mereka
Mungkin karena ini malam, sebab itulah mereka tak di sadari
Karena yang mendengar mungkin sudah terlelap karena sibuk melayani pemilik saham ketika siang hari
Kemudian mereka hanya berkata
"Kami hanyalah alas kaki"
Kemudian kami menyadari karena kami masih terbangun di malam hari
Dan kami berkata apa yang mereka katakan
Dan kita tau akhirnya
Kami melahirkan lirik-lirik keji
- Jl. Perhubungan, Jakarta Timur
25 Oktober 2016
Dunia tercipta diantara batas batas Maya dan realita.
Maka aku bercerita kepada dunia dengan kata kata yang ingin di mengerti oleh semua.
Tak harus membuat mereka semua meningkatkan amarah.
Minimal menghidupkan nurani nurani kita yang sudah hampir mati.
Kamu bercerita tentang tawa mu
Kalian bercerita tentang harapan kalian
Kita semua bercerita tentang kebahagiaan
Sedangkan dia ataupun mereka masih termenung dengan sedih diantara harapan harapan mereka yang terkubur
Masih adapula yang tertelan dengan mimpi mimpi mereka yang tak kunjung memperlihatkan napasnya
Maka kepada siapa kita menuntut kebahagiaan yang sebenarnya?
Akhirnya Dia bercerita kepada kita melalui kalamNya
Bahwa kebahagiaan terletak diantara jari jemari perjuangan
Ternyata kebahagiaan terletak diantara tangisan-tangisan yang terukir
Ternyata kebahagiaan muncul diantara sesak napas
Itu semua ternyata bersembunyi diantara sebuah kata yang menyebabkan Tuhan menarik kita ke dalam Syurga Nya
Bahasa kita mengatakan komitmen
Agama berkata Istiqomah
Ternyata di balik kata inilah kebahagiaan itu tersimpan
Semoga tangisan
Semoga keringat
Semoga darah
Semoga rasa sakit
Semoga sesak yang tak tertahan
Semoga resah yang tak bertepi karena banyak hal yang tak bisa di selesaikan
Bisa menyebabkan kita dan semuanya berakhir di tempat yang mulia
Dan bertemu dengan Sang Pencipta
Adakah kita masih bertanya tentang cibiran dia yang disana?
Bukan mendengarkan Firman Nya?
Rawamangun, Masjid Ulul Albab 25 okt 2016
Monday, October 10, 2016
"Nanti akan ada sebuah kondisi dimana kemarau berkepanjangan dan semua orang kesulitan untuk makan. Hingga saking sulitnya masa itu sehari diibaratkan setahun. Hingga muncul pertanyaan darimana mereka bisa bertahan? Mereka bertahan dengan Tasbih dan Tahmid"
Kami menyebutnya generasi Tasbih dan Tahmid. Generasi ini nanti akan tercipta di saat saat akhir peradaban.
Kemudian yang menjadi pertanyaan bagaimana mereka bisa menjadi orang-orang itu. Kita bisa mengetahui bahwa keimanan bukanlah sesuatu yang bisa dipersembahkan secara tiba-tiba. Pasti keimanan yang terlahir dari sikap mereka adalah dampak dari latihan yang panjang. Proses pendidikan yang mendalam. Sikap mereka itu pastinya bukan hanya tercipta karena paksaan keadaan.
Tetapi itu memang tentang keimanan yang bicara. Tentang jiwa jiwa yang terbebas dari hawa nafsu. Sehingga terwujudlah pribadi-pribadi yang hawa nafsunya bisa mereka injak dibawah kaki mereka sendiri.
Maka entah siapa generasi ini. Generasi akhir zaman. Dimana keimanan dunia bergantung pada mereka. Dimana cinta pada Rabb dipertaruhkan pada generasi mereka.
Inilah mereka generasi Tasbih dan Tahmid.
Entah siapa mereka. Entah kapan mereka akan tiba. Entah mereka telah terlahir atau belum. Entah mereka sedang di didik atau bagaimana. Entah kapan mereka akan memperlihatkan dirinya.
Dan pasti mereka akan membuat indah catatan sejarah. Karena keimanan mereka.
Siapakah mereka?
Saturday, October 8, 2016
Sepertinya aku sudah lama tenggelam di dalam dunia yang sudah kubuat
Ciangsana, 8 Okteber 2016


