Miqdad Ramadhan
Monday, July 24, 2017
Miqdad Ramadhan
Sunday, July 23, 2017
Miqdad Ramadhan, Rawamangun 23 Juli 2017
Wednesday, December 28, 2016
"Where is the love?"
-Black Eyed Peas
Jadi apa yang harus kita lakukan untuk menjawabnya?
Mereka berkata bahwa mereka adalah yang paling benar. Dengan menguatkan segalanya dengan apa yang dimiliki nya. Entah untuk apa itu semua.
Apakah untuk eksistensi?
Atau untuk mempertahankan nama baik?
Entahlah..
Itulah kita semua yang hanya mengharapkan sesuatu yang dangkal tak berarti. Sedangkan hal besar sedang menanti. Kita bertarung untuk hal-hal yang tak berguna lagi sempit hina-dina.
Apalah arti popularitas.
Apalah arti eksistensi
Tak ada artinya apabila ini semua tak ada tujuan untuk menuju perbaikan.
Inilah kita. Seringkali menggadaikan cinta untuk mengejar hasrat pribadi yang tak ada harganya.
Inilah kita.
Yang masih jauh dari kebangkitan.
Ya, karena memang kita yang menjauhkan nya.
Thursday, October 27, 2016
"Aku tidak peduli", begitu kata mereka
Memang malam lebih mencintai bintang
Dan siang juga pasti mencintai mentari
Aku tau itu
Aku melihat siang menampakkan dirinya karena petuah sang Pencipta
Malampun menutupi karena arahan Sang Pencipta
Maka mereka semua bekerja atas visi yang sama
Mereka memiliki kesadaran yang sama
Mereka memiliki cinta yang sama
Mereka memiliki harapan yang sama
Meski tak pernah bersua
Bagaimana dengan mereka?
Aku kembali mendengar
"Aku tak peduli"
Mungkin ini sebab mengapa kita tak mendapatkan takdir untuk bangkit
Karena memang
Cinta kita
Mimpi kita
Harapan kita
Semua busuk menyengat
Semua bergerak atas keegoisan
Kehendak, karya menjadi sia-sia
Maka pada bangsa aku berkata
Bisakah kau menyatukan kita atas cinta yang sama?
- UNJ, 27 Oktober 2016
Wednesday, October 26, 2016
Tuesday, October 25, 2016
Aku bernapas diantara kata kata yang terlarut di dalam udara
Mereka beranggapan bahwa lirik lirik yang kami utarakan adalah lirik yang keji
Padahal kami hanya bersuara menurut undang-undang yang disediakan oleh negara
Mungkin kita dihinakan oleh dunia yang entah berapa kali mencaci maki
Yaaa.
Hanya ini yang kami berikan untuk jeritan-jeritan yang kami dengar di malam hari yang gelap
Tak banyak penerangan yang bisa dilihat di malam yang kelam
Mungkin karena ini malam, sebab itulah suara mereka tak di dengar
Di banding dengan orang-orang yang akan semakin kaya karena pembangunan di tujukan untuk mereka
Mungkin karena ini malam, sebab itulah mereka tak di sadari
Karena yang mendengar mungkin sudah terlelap karena sibuk melayani pemilik saham ketika siang hari
Kemudian mereka hanya berkata
"Kami hanyalah alas kaki"
Kemudian kami menyadari karena kami masih terbangun di malam hari
Dan kami berkata apa yang mereka katakan
Dan kita tau akhirnya
Kami melahirkan lirik-lirik keji
- Jl. Perhubungan, Jakarta Timur
25 Oktober 2016
Dunia tercipta diantara batas batas Maya dan realita.
Maka aku bercerita kepada dunia dengan kata kata yang ingin di mengerti oleh semua.
Tak harus membuat mereka semua meningkatkan amarah.
Minimal menghidupkan nurani nurani kita yang sudah hampir mati.
Kamu bercerita tentang tawa mu
Kalian bercerita tentang harapan kalian
Kita semua bercerita tentang kebahagiaan
Sedangkan dia ataupun mereka masih termenung dengan sedih diantara harapan harapan mereka yang terkubur
Masih adapula yang tertelan dengan mimpi mimpi mereka yang tak kunjung memperlihatkan napasnya
Maka kepada siapa kita menuntut kebahagiaan yang sebenarnya?
Akhirnya Dia bercerita kepada kita melalui kalamNya
Bahwa kebahagiaan terletak diantara jari jemari perjuangan
Ternyata kebahagiaan terletak diantara tangisan-tangisan yang terukir
Ternyata kebahagiaan muncul diantara sesak napas
Itu semua ternyata bersembunyi diantara sebuah kata yang menyebabkan Tuhan menarik kita ke dalam Syurga Nya
Bahasa kita mengatakan komitmen
Agama berkata Istiqomah
Ternyata di balik kata inilah kebahagiaan itu tersimpan
Semoga tangisan
Semoga keringat
Semoga darah
Semoga rasa sakit
Semoga sesak yang tak tertahan
Semoga resah yang tak bertepi karena banyak hal yang tak bisa di selesaikan
Bisa menyebabkan kita dan semuanya berakhir di tempat yang mulia
Dan bertemu dengan Sang Pencipta
Adakah kita masih bertanya tentang cibiran dia yang disana?
Bukan mendengarkan Firman Nya?
Rawamangun, Masjid Ulul Albab 25 okt 2016

