Miqdad Ramadhan



Banyak yang berkata apabila ingin melakukan perubahan maka ada kegelisahan yang mendalam di dalam hati
Tetapi kita sudah tak gelisah..
Yahh. Kami sudah terburu-buru menikmati ini semua. Kami terlanjur merasa nyaman dengan semua ini.
Yaa kami sudah tak merasa gelisah lagi. Makanya perubahan tak kunjung kembali.
Yaa kami sudah tak merasa gelisah lagi

0 comments | | edit post
Reactions: 
Miqdad Ramadhan
                “Dosen ingin logika. Guru ingin logika. Perdebatan ingin logika. Aku berikan semua logika. Biarkan aku mati di dalamnya”

                Keperihan menjalar kemana-mana. Karena hati sudah jarang sekali digunakan. Logika diutamakan. Semua harus berwujud dalam rasionalitas yang mengekang. Pemecahan masalah harus berwujud dalam pemikiran yang matang.
                Ahh.. sekali lagi renungkanlah. Andaikan hati dilapangkan. Kesempatan memaafkan diperlebar. Maka kemungkinan kesakitan akan mengecil. Tak semua masalah harus dilogikakan jalan keluarnya, jika hati kita fungsikan.
                Wahai dunia berikanlah kesempatan pada manusia untuk menggunakan hatinya. Karena kebahagiaan sebenarnya ada padanya. Bukan pada kemenangan logika. Berilah waktu pada hati untuk bertindak.

                Mari manfaatkann hati untuk memperlapang segalanya. Sehingga dunia merasakan cinta yang membangun antar sesama
0 comments | | edit post
Reactions: 
Miqdad Ramadhan
more about me: miqdadramadhan.tumblr.com
0 comments | | edit post
Reactions: 
Miqdad Ramadhan

Si sepi menghampiri . Menghampiri dengan semangat menemani. Kemudian dia pergi dikala dia merasa tak diperlukan lagi.

Aku terlalu mencintai bau sepi ini. Sehingga aku tak ingin dia pergi. Aku menantikan disaat sepi datang lagi, menghampiri.

Sendiri, menyepi. 
0 comments | | edit post
Reactions: 
Miqdad Ramadhan
Aku berjalan pulang melewati jalanan kemunafikan. Langkah kakiku tertahan melihat senyuman-senyuman yang tak bernyawa. Aku terdiam menyaksikannya untuk sementara waktu. Aku melihat mereka semakin lama semakin tenggelam di dalam canda tawanya. Dan mereka tertawa terbahak-bahak. Aku termenung sejenak. Kemudian aku bertanya dalam hati, “Apakah mereka benar-benar hidup?”


 Akupun berjalan melalui mereka. “Buat apa aku memikirkan mereka”, gumamku. Biarkan sajalah mereka tertawa di dalam kebohongan.  Pemandangan seperti ini juga sering terlihat setiap harinya. Biarkan saja berlalu. Akupun berlari sedikit. Teringat barang belanjaan di tanganku sudah ditunggui ibuku.
0 comments | | edit post
Reactions: 
Miqdad Ramadhan
Malam ini, ketika baru pulang dari rumah seorang sahabat. Saya terjebak. Uang terbatas. Metromini pun sudah menghilang. Ahh.. frustasi sudah. Nanya tukang bajaj. "30 ribu de"
Nanya tukang ojek. "35 ribu mas" yakalii.. makan buat besok aja ga ada..

Di dalam kebimbangan seorang tukang ojek mengatakan.
"Punya berapa mas?"

" 15 ribu deh pak, buat makan besok juga"



Akhirnya si bapak mengiyakan.Di saat perpisaha  kita. Saya mendo'akan keberkahan atas si bapak. Karena hanya itu yang bisa saya sampaikan. Membalas kurangnya bayaran yang saya berikan.




0 comments | | edit post
Reactions: 
Miqdad Ramadhan

"Apakah kau sekadar debu?

Kencangkan simpul pribadimu
Pegang selalu wujudmu yang alit
Betapa keagungan memulas pribadi seseorang
Dan menguji cahayanya di kehadiran suria

Lalu pahatkan kembali rangka lama kepunyaanmu

Dan bangunlah wujud yang baru Wujud yang bukan semu
Atau pribadimu cuma lingkaran asap"

-Muhammad Iqbal
0 comments | | edit post
Reactions: